Lampung Selatan – publiklampung.com, Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) berdampak terhadap sektor pariwisata di perairan Lampung Selatan. Sejumlah pelaku usaha jasa wisata mengaku mengalami penurunan jumlah wisatawan setelah diberlakukannya pembatasan aktivitas di sekitar kawasan gunung akibat meningkatnya aktivitas vulkanik.
Salah seorang pengusaha jasa trip wisata, Chandra, mengatakan wisatawan kini tidak lagi diperbolehkan mendarat di kawasan Gunung Anak Krakatau. Pengunjung hanya dapat melihat gunung dari atas kapal dengan jarak aman sesuai rekomendasi otoritas.
"Sekarang sudah tidak bisa ke sana. Wisatawan hanya melihat Gunung Anak Krakatau dari atas kapal, setelah itu langsung kembali," ujar Chandra, Senin (6/7).
Menurutnya, pembatasan tersebut mulai diterapkan sejak akhir pekan lalu menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus Level III (Siaga). Otoritas juga mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Sebelum adanya pembatasan, paket wisata menuju Gunung Anak Krakatau masih menjadi salah satu destinasi favorit. Dalam satu kali perjalanan, sebuah kapal dapat mengangkut sekitar 50 peserta dengan biaya sekitar Rp400 ribu per orang. Paket tersebut mencakup transportasi kapal, menginap di Pulau Sebesi, konsumsi, dokumentasi, serta perlengkapan keselamatan.
Namun, kondisi erupsi membuat banyak calon wisatawan memilih membatalkan perjalanan. Sebagian di antaranya mengalihkan tujuan wisata ke destinasi lain yang dinilai lebih aman.
"Kemarin sudah ada satu rombongan yang membatalkan keberangkatan. Ada yang dari Bekasi dan Palembang, akhirnya memilih berwisata ke Pulau Pahawang," kata Chandra.
Ia menegaskan tidak ingin mengambil risiko dengan tetap membawa wisatawan mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama mengingat masih adanya potensi bahaya dari aktivitas vulkanik.
"Saya tidak mau memaksakan wisatawan tetap berangkat. Kami tidak tahu kondisi kesehatan masing-masing orang, apalagi ada potensi paparan gas vulkanik. Lebih baik menunggu situasi benar-benar aman," ujarnya.
Menurunnya jumlah wisatawan turut memengaruhi pendapatan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata. Chandra mengatakan perjalanan wisata menuju Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi pelaku usaha di sekitar Pulau Sebesi.
"Kalau wisata Krakatau tutup, otomatis sepi. Penghasilan pasti menurun. Biasanya setiap minggu ada trip, sekarang banyak yang dibatalkan," ungkapnya.
Untuk mempertahankan usahanya, Chandra kini lebih mengandalkan layanan angkutan penumpang reguler dari Pelabuhan Canti menuju Pulau Sebesi dan sebaliknya sambil menunggu kondisi Gunung Anak Krakatau kembali normal.
"Sekarang kami fokus melayani penumpang dari Canti ke Sebesi. Semoga kondisi Krakatau segera membaik sehingga aktivitas wisata bisa kembali berjalan seperti biasa," pungkasnya.


0 comments:
Post a Comment