BANDAR LAMPUNG – Gelaran Lampung Begawi x SigerFest 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga hari di Lampung City Mall, Bandar Lampung, Minggu (20/9/2026) malam.
Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung tersebut ditutup oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan yang mewakili Gubernur Lampung. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing.”
Lampung Begawi x SigerFest 2026 menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, perbankan, akademisi, komunitas, pelaku UMKM, serta masyarakat. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan hilirisasi dan digitalisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas serta produk lokal Lampung.
Dalam sambutan tertulis Gubernur Lampung yang disampaikan Marindo, pemerintah daerah menilai Lampung memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan agar manfaat ekonominya semakin banyak dirasakan masyarakat.
“Tiga hari Lampung Begawi x SigerFest 2026 memberikan satu pesan yang sangat jelas kepada kita. Lampung tidak kekurangan potensi. Tantangan kita adalah bagaimana semakin banyak nilai dari potensi itu tinggal di Lampung dan dinikmati oleh masyarakat Lampung,” ujar Marindo.
Menurut Pemprov Lampung, komoditas seperti kopi, hasil pertanian dan perkebunan, pangan, wastra, produk UMKM, serta ekonomi kreatif tidak cukup hanya dipasarkan sebagai bahan mentah. Produk tersebut perlu diolah sehingga menghasilkan nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Lampung tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil. Lampung harus menjadi daerah pencipta nilai tambah. Kopi Lampung jangan berhenti sebagai biji kopi. Hasil pertanian kita jangan berhenti sebagai bahan mentah. Produk UMKM jangan berhenti pada produksi skala kecil,” tegasnya.
Penguatan hilirisasi, lanjutnya, dapat dilakukan secara bertahap mulai dari peningkatan produksi, pengolahan bahan baku, penciptaan produk, pembangunan merek, hingga perluasan akses pasar.
Selain hilirisasi, digitalisasi juga menjadi perhatian Pemprov Lampung. Pemanfaatan sistem pembayaran digital, termasuk QRIS, dinilai dapat meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan Lampung Begawi x SigerFest bukan sekadar festival atau pameran produk UMKM, melainkan wadah untuk membangun ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
“Lampung Begawi x SigerFest 2026 dirancang bukan sekadar sebagai sebuah festival atau pameran produk, khususnya UMKM, tetapi merupakan sebuah ruang kolaborasi yang mempertemukan UMKM, dunia usaha, perbankan, pemerintah, komunitas dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Lampung,” jelas Bimo.
Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan tersebut dikunjungi sekitar 28.000 orang. Dari sisi transaksi, penjualan makanan, minuman, dan wastra tercatat sedikit di atas Rp500 juta. Sementara transaksi wakaf di Lamban Kupi mencapai 1.248 transaksi.
Bank Indonesia juga mencatat pembiayaan UMKM Lampung sejak awal 2026 mencapai sekitar Rp10 miliar. Adapun nilai ekspor produk UMKM Lampung tercatat sekitar Rp1,92 miliar, dengan sejumlah komoditas seperti kopi serta produk makanan dan minuman telah menembus pasar luar negeri.
Rangkaian kegiatan juga menampilkan pengembangan ekosistem kopi Lampung melalui pertemuan petani, pelaku usaha, barista, komunitas, hingga calon investor. Selain itu, Lamban Wastra menjadi ruang promosi budaya dan ekonomi kreatif melalui workshop, talkshow, pameran, serta fashion show.
Bimo menegaskan berakhirnya festival tidak berarti berakhirnya kerja sama antarpihak dalam mengembangkan potensi Lampung.
“Yang berakhir hari ini adalah rangkaian acaranya, bukan semangat kolaborasinya,” katanya.
Melalui semangat tersebut, pemerintah dan pemangku kepentingan di Lampung diharapkan terus memperkuat hilirisasi, digitalisasi, serta perluasan pasar agar komoditas dan produk lokal tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat daerah.

0 comments:
Post a Comment