publiklampung.com - Lampung Tengah – Para pedagang minuman hangat di kawasan Pasar Punggur, Lampung Tengah, memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual meskipun harga plastik kemasan mengalami lonjakan cukup tinggi.
Salah satu pedagang, Nur Usman Muhammad Dalis, yang menjual bandrek, skoteng, dan STMJ, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan biaya operasional tersebut.
Walaupun harga plastik kemasan meningkat hingga 40–50 persen, ia tetap mempertahankan harga minumannya agar pelanggan tidak beralih ke penjual lain.
“Belum saya naikkan, karena kalau harga naik, pembelian dari konsumen pasti menurun,” ujarnya pada Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, plastik berukuran 12x25 kini dijual sekitar Rp13.000 per pak, dari sebelumnya Rp8.000. Sementara plastik jenis kresek asoy mengalami kenaikan dari Rp10.000 menjadi Rp18.000 per pak.
Dalam sehari, Usman menggunakan masing-masing satu pak plastik tersebut, sehingga kenaikan harga ini menambah beban modal usahanya.
Hingga saat ini, ia belum menemukan alternatif pengganti plastik yang lebih ekonomis. Selain itu, menurutnya, meminta pembeli membawa wadah sendiri juga belum bisa diterapkan untuk jenis minuman yang dijualnya.
Usman menduga lonjakan harga ini dipengaruhi oleh kondisi global yang tidak stabil, termasuk konflik internasional dan terganggunya aktivitas ekspor-impor.
“Dari yang saya lihat di media sosial, kebanyakan karena dampak konflik global atau perang, jadi berpengaruh ke ekspor-impor tekstil dan plastik,” jelasnya.
Ia pun berharap pemerintah dapat segera menghadirkan solusi, karena dampaknya dirasakan tidak hanya oleh pedagang kecil, tetapi juga pelaku usaha skala besar.
“Harapannya ada solusi dari pemerintah. Kalau usaha lain seperti pengusaha keripik, dampaknya pasti jauh lebih besar,” tutupnya.

0 comments:
Post a Comment