publiklampung.com - Selama bertahun-tahun, puluhan pelajar di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu getek untuk bisa berangkat ke sekolah. Hingga kini, wilayah tersebut belum memiliki jembatan penyeberangan yang layak.
Kondisi ini membuat para pelajar kerap menghadapi risiko keselamatan. Bahkan, beberapa di antaranya pernah tiba di sekolah dalam keadaan basah akibat cipratan air sungai saat menyeberang.
Praja, siswa SMA Negeri 1 Way Bungur, mengaku sering terlambat masuk sekolah karena waktu tempuh yang lama menggunakan perahu getek.
“Ya lama naik getek ini, tapi kan cuma ini satu-satunya yang bisa anter ke sekolah. Jadi sering telat datang ke sekolah,” ujar Praja, Senin (2/2/2026).
Tak hanya itu, saat hujan deras dan debit air sungai meningkat, Praja memilih untuk tidak masuk sekolah demi keselamatan.
“Kalau hujan deras air pasti tinggi. Jadi terpaksa nggak masuk sekolah, orang tua juga takut kalau tetap maksa nyebrang,” katanya.
Meski demikian, pihak sekolah disebut memberikan kelonggaran bagi siswa yang terlambat akibat kondisi tersebut.
“Alhamdulillah sekolah ngerti, kasih dispensasi. Guru-guru juga paham kondisi kami,” ucap Praja.
Para pelajar berharap pemerintah segera membangun jembatan agar akses pendidikan menjadi lebih aman dan lancar.
“Kami pelajar minta supaya ada jembatan. Jadi nggak telat, nggak takut kejebur, nggak basah-basahan. Tolong segera dibangun,” harapnya.
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan pelajar dan warga Desa Kali Pasir menyeberangi sungai menggunakan perahu getek yang penuh penumpang, bahkan membawa sepeda motor tanpa dilengkapi alat keselamatan.
Warga menyebut Desa Kali Pasir telah berdiri sejak 1960, namun hingga tahun 2026, jembatan penghubung antarwilayah tak kunjung dibangun. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, terutama bagi pelajar yang setiap hari harus melintasi sungai demi mengenyam pendidikan.

0 comments:
Post a Comment