JAKARTA – Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada peningkatan suhu bumi, tetapi juga memengaruhi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Perubahan suhu, pola curah hujan, dan kelembapan dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit tersebut.
Hal itu diungkap dalam penelitian terbaru para peneliti Monash University yang diterbitkan di jurnal Science Advances pada 2 Oktober 2026. Studi tersebut menjelaskan bahwa hubungan perubahan iklim dengan penularan malaria dan DBD cukup kompleks karena dipengaruhi kondisi lingkungan, musim, serta faktor sosial dan kesehatan masyarakat.
Penelitian itu menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan perubahan curah hujan dapat memengaruhi jumlah nyamuk, wilayah persebarannya, serta intensitas penularan penyakit. Namun, dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah karena karakteristik nyamuk dan lingkungan tempat hidupnya berbeda.
Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit. Sementara itu, DBD disebabkan virus dengue yang menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi.
Meski sama-sama dipengaruhi kondisi iklim, kedua penyakit tersebut memiliki tren berbeda secara global. Kajian tersebut mencatat bahwa malaria mengalami penurunan dalam jangka panjang, sedangkan kasus dengue menunjukkan peningkatan pesat. Perbedaan ini turut dipengaruhi program pengendalian malaria, urbanisasi, perubahan penggunaan lahan, serta karakteristik biologis nyamuk pembawanya.
Peneliti utama Toby Cumming menekankan pentingnya memahami berbagai faktor yang mendorong penularan penyakit agar langkah penanganan kesehatan masyarakat dapat dilakukan secara tepat. Risiko tidak hanya ditentukan oleh iklim, tetapi juga kepadatan penduduk, mobilitas manusia, tingkat kekebalan, kualitas tempat tinggal, dan efektivitas program pencegahan.
Karena itu, pengendalian penyakit yang ditularkan nyamuk perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan. Upaya tersebut mencakup pengendalian vektor, peningkatan akses terhadap vaksinasi dan layanan kesehatan yang relevan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca untuk membatasi pemanasan global.
Di tingkat masyarakat, pencegahan DBD dapat dilakukan dengan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk, menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang yang berpotensi menampung air hujan. Upaya pemberantasan sarang nyamuk juga perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika kasus meningkat.
Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan salah satu faktor yang memengaruhi risiko malaria dan DBD, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Strategi pencegahan yang efektif perlu menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah serta menggabungkan kebijakan lingkungan, pengendalian nyamuk, dan penguatan layanan kesehatan.


0 comments:
Post a Comment