LAMPUNG SELATAN – Kebakaran melanda sebuah gudang pengepul barang rongsokan di Dusun Muara Pelik, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (11/10/2026) siang. Peristiwa tersebut mengakibatkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp200 juta.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 12.35 WIB. Petugas menerima laporan pada pukul 13.30 WIB dari Kepala Desa Bakauheni.
“Setelah menerima laporan, kami mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Pemadaman juga dibantu dua unit mobil pemadam kebakaran dari ASDP,” kata Rully.
Petugas dari Posko Ketapang dan Posko Kalianda bersama personel pemadam kebakaran dari PT ASDP Indonesia Ferry langsung melakukan upaya pemadaman. Proses tersebut berlangsung selama sekitar empat hingga lima jam hingga api berhasil dikendalikan.
Setelah api padam, petugas melanjutkan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang masih menyala dan berpotensi memicu kebakaran kembali. Penanganan di lokasi selesai sekitar pukul 17.15 WIB.
Gudang yang terbakar diketahui milik Santika (45). Meski kebakaran menimbulkan kerugian material cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Rully memperkirakan kerugian akibat kebakaran berada pada kisaran Rp100 juta hingga Rp200 juta. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
Hingga Minggu malam, belum ada keterangan resmi mengenai pemicu munculnya api maupun dugaan awal penyebab kebakaran. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kronologi dan faktor yang menyebabkan gudang pengepul rongsokan tersebut terbakar.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di lokasi penyimpanan barang rongsokan yang dapat berisi berbagai material mudah terbakar. Pemeriksaan instalasi listrik, penataan barang, serta ketersediaan akses bagi petugas pemadam menjadi langkah yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kejadian serupa.


0 comments:
Post a Comment