JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengingatkan produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk memperkuat manufaktur di dalam negeri. Hal ini seiring dengan ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang akan meningkat menjadi 60 persen pada 2027.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, produsen kendaraan listrik yang sebelumnya mengikuti program insentif pemerintah hingga 2025 sebenarnya telah mengetahui persyaratan dan tahapan peningkatan TKDN yang harus dipenuhi.
"Jadi anggota itu kan pada waktu mereka mau ikut program [insentif], kan ada persyaratannya. Kalau Anda masuk ke sini, syaratnya ada, dan mereka sudah tahu semua,” ujar Kukuh, dikutip dari Bisnis.com, Senin (28/9/2026).
Menurut Kukuh, realisasi rencana bisnis produsen tidak selalu berjalan sesuai dengan perkiraan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah volume penjualan kendaraan listrik yang belum memadai untuk mendukung rencana produksi dan pengembangan manufaktur di Indonesia.
Meski demikian, ia menilai setiap produsen yang ingin memasuki pasar Indonesia semestinya telah memahami regulasi yang berlaku, termasuk kewajiban meningkatkan kandungan lokal kendaraan listrik.
Kukuh mengakui target TKDN 60 persen pada 2027 menjadi tantangan bagi sejumlah merek kendaraan listrik yang baru memasuki pasar Indonesia. Namun, ketentuan tersebut tetap harus diupayakan oleh para produsen.
“Nah, itu yang menjadi poin, ya. Kalau mau masuk itu kan, berdasarkan aturan yang ada, memang itu berat ya. Kalau tahun depan, ya Anda harus ikut yang [TKDN] 60%, gitu kan. Itu yang memang menjadi banyak pertanyaan,” jelasnya.
Sejumlah merek kendaraan listrik baru memang mulai memasuki pasar Indonesia sepanjang 2026. Beberapa di antaranya adalah BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky, dan Zeekr yang melakukan debut pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Di sisi lain, sejumlah produsen kendaraan listrik asal China telah mengembangkan fasilitas manufaktur di Indonesia. BYD, misalnya, telah mengoperasikan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun dan nilai investasi sekitar Rp16 triliun.
Wuling juga telah memiliki fasilitas manufaktur yang beroperasi di Cikarang, Jawa Barat. Sementara itu, sejumlah merek seperti Chery, Geely, BAIC, dan Jetour masih memanfaatkan fasilitas perakitan PT Handal Indonesia Motor (HIM) untuk memproduksi kendaraan yang dipasarkan di Indonesia.
Dari sisi pasar, penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) juga menunjukkan pertumbuhan. Data Gaikindo mencatat penjualan wholesales BEV mencapai 101.171 unit pada Januari-Agustus 2026, naik 97,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 51.191 unit.
Berdasarkan ketentuan pemerintah, TKDN kendaraan listrik produksi dalam negeri ditetapkan minimal 40 persen untuk periode 2022-2026. Persentase tersebut kemudian meningkat menjadi minimal 60 persen pada 2027-2029 dan menjadi 80 persen mulai 2030.
Dengan meningkatnya target tersebut, industri otomotif dituntut memperkuat rantai pasok dan penggunaan komponen lokal agar pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga mendorong pengembangan industri manufaktur dalam negeri.

0 comments:
Post a Comment