Jakarta – Iran mengancam akan meningkatkan aksi militernya di Selat Hormuz apabila upaya diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) gagal mencapai kesepakatan. Teheran bahkan menyatakan siap mengubah kebijakan dari posisi defensif menjadi sepenuhnya ofensif di tengah kebuntuan negosiasi untuk mengakhiri perang kedua negara.
Ancaman tersebut disampaikan seorang pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters, sebagaimana dikutip detikNews, Selasa (18/8/2026). Menurut pejabat tersebut, Iran siap mengambil langkah militer untuk menghadapi blokade angkatan laut AS jika jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.
“Entitas Iran harus siap untuk meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan wilayah yang lebih luas,” kata pejabat Iran tersebut.
Ia menambahkan, Teheran dapat melancarkan serangan militer yang disebut akan dilakukan secara tepat waktu dan akurat untuk mematahkan blokade AS apabila proses perundingan mengalami kegagalan.
Ketegangan terbaru tersebut terjadi setelah upaya mencapai kesepakatan damai antara Iran dan AS menemui jalan buntu. Kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pada 17 Juni 2026.
MoU tersebut memberikan waktu 60 hari bagi Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas, termasuk menyangkut program nuklir Iran. Kesepakatan itu juga memuat penghentian operasi militer secara segera dan permanen di berbagai lini.
Namun, pelaksanaan kesepakatan kemudian terganggu oleh perselisihan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur penting perdagangan energi dunia.
Iran menilai salah satu poin dalam MoU memberikan hak kepada Teheran untuk mengelola selat tersebut. Sebaliknya, Washington menolak tafsiran Iran. Perselisihan itu kemudian kembali memicu bentrokan dan gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut.
Pejabat Iran tersebut mengatakan Teheran telah memberikan tenggat waktu kepada AS untuk memenuhi sejumlah ketentuan dalam perjanjian sebelum pembicaraan lebih lanjut dapat dilakukan.
“Dalam jangka waktu singkat beberapa minggu yang ditetapkan Iran, semua ketentuan perjanjian harus diimplementasikan oleh AS,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin memperpanjang kesepakatan sementara tersebut. Trump juga menegaskan bahwa pencegahan Iran memiliki senjata nuklir tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.
Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar energi global. Reuters melaporkan harga minyak mentah Brent telah naik hingga di atas US$91 per barel pada 18 Agustus akibat kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi melalui kawasan tersebut.
Situasi ini membuat masa depan negosiasi AS-Iran semakin tidak pasti. Jika ancaman militer benar-benar direalisasikan, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz berpotensi menambah tekanan terhadap pasar energi dan perekonomian global.

0 comments:
Post a Comment