Jakarta – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi salah satu ruang kolaborasi untuk memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar semakin tangguh dan berdaya saing. Kegiatan yang digelar Bank Indonesia (BI) bersama kementerian, lembaga, dan berbagai mitra strategis itu mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, investor, agregator, hingga lembaga pembiayaan.
Mengusung tema “Beudaya Meusare-Sare” yang bermakna berdaya bersama-sama, KKI 2026 menjadi penyelenggaraan ke-11. Dalam pelaksanaannya, BI menggandeng 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis.
Tidak hanya menghadirkan pameran produk, KKI 2026 juga diisi dengan seminar, business matching, serta pertemuan langsung antara UMKM dengan investor dan agregator. Langkah tersebut diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas terhadap pasar dan pembiayaan.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan semangat KKI 2026 merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing UMKM nasional.
“Mari kita berdaya bersama-sama untuk mewujudkan atau meningkatkan UMKM Indonesia yang sehat dan kuat, serta mempunyai daya saing,” ujar Destry saat membuka KKI 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (20/8/2026).
Menurut Destry, UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Ia menyebut terdapat sekitar 64 juta pelaku UMKM yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dan memberikan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Karena itu, pengembangan UMKM membutuhkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan mitra strategis. BI juga terus mendorong kolaborasi melalui jaringan 46 kantor perwakilan di dalam negeri dan lima kantor perwakilan di luar negeri.
550 UMKM Ikuti Pameran Fisik
Pada KKI 2026, sekitar 550 UMKM mengikuti pameran secara fisik, sedangkan lebih dari 1.300 UMKM berpartisipasi melalui pameran daring. Produk yang ditampilkan meliputi fesyen, pangan, kopi, wastra, serta berbagai produk kreatif dari daerah.
Aceh menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam gelaran tahun ini. Kekayaan budaya dan produk kreatif dari Aceh ditampilkan sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM lokal yang sebelumnya turut terdampak bencana banjir bandang.
Direktur Departemen Ekonomi, Keuangan, Inklusi, dan Hijau BI Kurniawan Agung menjelaskan bahwa pembinaan UMKM dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas dan kapasitas, digitalisasi, akses pasar domestik dan global, hingga pembiayaan.
“Kita tidak hanya sekadar pameran saja KKI ini, namun merupakan puncak selebrasi, kemudian merupakan ajang interaksi,” kata Kurniawan.
Melalui business matching, UMKM juga dapat bertemu investor dan agregator. Program tersebut sekaligus membantu pelaku usaha memahami kebutuhan pasar serta menyesuaikan produk dengan selera konsumen di negara tujuan.
Dorong Digitalisasi dan Keberlanjutan
KKI 2026 juga memperkuat aspek keberlanjutan melalui konsep KKI Duo Zero. Program tersebut mencakup penanaman pohon dan pembelian kredit karbon untuk mengimbangi emisi kegiatan. Sampah organik diolah menjadi produk bermanfaat seperti pupuk, sedangkan sampah plastik diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain itu, BI mendorong digitalisasi UMKM melalui QRIS. Kebijakan merchant discount rate (MDR) 0 persen diterapkan untuk transaksi hingga Rp100 ribu pada seluruh kategori merchant. Khusus usaha mikro, MDR 0 persen berlaku hingga transaksi Rp500 ribu.
Penjualan Tembus Rp177,21 Miliar
KKI 2026 mencatat total penjualan selama empat hari mencapai Rp177,21 miliar, meningkat dibandingkan capaian KKI 2025 sebesar Rp130,84 miliar.
Penjualan secara luring mencapai Rp57,76 miliar atau meningkat 94 persen, sedangkan penjualan daring mencapai Rp119,45 miliar atau naik 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain transaksi penjualan, business matching ekspor menghasilkan nilai Rp169,9 miliar dengan melibatkan pembeli dari 16 negara dan 192 UMKM. Sementara business matching pembiayaan mencapai Rp285 miliar, meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa KKI tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga menjadi sarana memperluas akses UMKM terhadap pasar, pembiayaan, investasi, dan peluang ekspor.
Melalui semangat “Beudaya Meusare-Sare”, BI berharap kolaborasi yang terbangun dalam KKI 2026 dapat terus berlanjut. Penguatan kapasitas, digitalisasi, akses pembiayaan, keberlanjutan, serta perluasan pasar diharapkan menjadi fondasi agar UMKM Indonesia mampu tumbuh, semakin tangguh, dan memiliki daya saing hingga pasar global.

0 comments:
Post a Comment